Masjid Sebagai Pusat Pengembangan Ekonomi Makro

Masjid-1

الحمد لله رب العلمين والعاقبة للمتقين ولاحول ولاقوة إلا بالله العلي العظيم . أشهد أن لا إله إلا الله هو أ صدق القائلين، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله رحمة للعالمين. اللهم صل وسلم وبارك على أشرف المرسلين، محمد وعلى أله وأصحابه ومن تبعه إلى يوم الدين. أما بعد : فيا أيها الحاضرون فيا أيها المسلمون: اتقوا الله حق تقاته ولاتموتن إلا وانتم مسلمون. البقرة275.

orang-orang yang Makan (mengambil) riba[174] tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila[175]. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu[176] (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya

 [174] Riba itu ada dua macam: nasiah dan fadhl. Riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. Riba fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya. Riba yang dimaksud dalam ayat ini Riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman jahiliyah.

[175] Maksudnya: orang yang mengambil Riba tidak tenteram jiwanya seperti orang kemasukan syaitan.

[176] Riba yang sudah diambil (dipungut) sebelum turun ayat ini, boleh tidak dikembalikan.

Ajaran Islam seperti yang telah banyak didifinisikan antara lain menyatakan :

الدين الإسلام : وضع إلهي الذى يسوق الإنسان بإختيار نفسه  إلى ماصلاحهم فى الدنيا وفلاحهم فى الأخرة

Agama Islam, ialah aturan atau konstitusi ketuhanan,  aturan Allah , yang mengahantarkan manusia atas usahanya sendiri, menuju kesuksesan kehidupan di dunia dan kesejahteraan kedidupannya di akherat kelak

Hal itu sesuai sekali dengan doa kita bersama, yang berhubungan kesejahteraan hidup di dunia dan kesejahteraan di di akherat

ربنا أتنا فى الدنيا حسنة وفى الأخرة حسنة وقنا عذاب النار (البقرة 201)

Atas dasar difinisi itu, maka secara folosofis  para pemikir Islam atas dasar Syari’ah yang bersumber al-Qur’an dan sunnah, serta ijtihad, berpendapat, bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang mempunyai prinsip tawazun, prinsip kehidupan keseimbangan, antara kehidupan dunia dan kehidupan akherat. Tentulah berbeda dengan agama lain, ada yang hanya mementingkan dunia, dan ada juga yang mementingkan kehidupan di akherat saja. Namun demikian bila kita berfikir mendalam,  sesungguhnya rumusan demikian itu sangat menyulitkan, dan membingungkan, yang perlu penjelasan yang sejelas-jelasnya. Karena kehidupan yang riil yang kita alami hanyalah kehidupan dunia, sedangkan kehidupan akherat belum kita jalani secara nyata, hanya suatu proses berikutnya, sesudah kehidupan dunia yang fana itu.   Pemikiran dunia  itu seolah-olah masalah yang ada urusan dengan kedunian  itu saja, yakni hal-hal yang  berhubungan urusan keperluan hidup sehari-hari, seperti urusan   mencari nafkah, berekonomi, makan, minum, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa,  berpolitik, dlsb. Sedangkan masalah akherat itu meliputi urusan shalat, zakat,haji, bersedekah, iman, Islam, ihsan, beramar makruf nahi mungkar, dll

Harapan idialis kita tentulah meskipun melakukan urusan dunia, tetapi harus diikuti pemikiran, dan penjiwaan akherat, penjiwaan moralitas akherat, seperti bersikap jujur, ikhlas, ibadah, kesungguhan, menjauhi sikap curang, takut dosa, ingin mendapatkan pahala, dsb. Selama ini banyak pendapat yang menyatakan, bila  seseorang lagi sibuk dan banyak urusan duniawi, seperti berbisnis, melakukan tugas jabatan, lalu urusan akherat, urusan kebaikan, urusan pahala menjadi berkurang. Padahal prinsip yang kita kemabangkan adalah tawazun, yang serba seimbang

Ada seorang ekonom sukses, berpendapat, justeru usahanya yang besar itu, dapat banyak beramal shalih, jujur, ikhlas, menjaga moralitas Islami, dibanding di saat-saat  usahanya belum maju. Atau ada pejabat yang merasakan, dengan kenaikan pangkat dan jabatannya yang lebih tinggi, maka  iman dan taqwanya lebih meningkat, ibadahnya semakin baik dan tertib

Bila demikian pengertian kita, maka Ajaran Islam itu mengatur urusan kehidupan manusia sehari-hari, dan mengatur pula tentang ibadah, urusan moral dan keruhanian

   Maka seorang ‘Ulama seperti Syekh Mahmud Syaltut, menyatakan, bahwa Islam itu meliputi Aqidah dan Syari’ah, artinya Islam itu mengatur keimanan, dan ketaqwaan, Urusan Ibadah, muamalah, dan akhlaq, dan juga urusan duniawi yang kita perlukan dalam hidup ini

Berbicara tentang tawazun, yakni filsafat keseimbangan dalam beragama, adalah upaya agar kehidupan yang berhubungan urusan kehidupan perorangan, keluarga, masyarakat dan bangsa ini dapat dicukupi secara wajar, jauh dari kekurangan, serta sehat dan penuh dengan keamanan dan kenyamanan, serta dijauhkan dari kesulitan, kemiskinan dan rasa ketakutan dan kesakitan.. Keadaan demikian itu dapat dicapai, tentulah tidak terlepas dari masalah berekonomi, baik makro maupun mikro, serta beribadah dengan sempurna. Mulai zaman Nabi Adam, AS berekonomi itu telah terjadi, tentu mulai dari berekonomi sederhana, tentulah belum sampai berekonomi tingkat modern, seperti masa sekarang ini, dan juga diikuti beragama dengan baik pula.. Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, ekonomi  itu, adalah teori yang mendalami tentang produksi, distribusi, pemakaian barang-barang dan juga jasa dan kekayaan, seperti urusan keuangan, perindustrian, dan perdagangan (hal.220). Sedangkan teori yang  mendalami hubungan berekonomi secara garis besar, seperti pembelanjaan, penanaman modal, pendapatan nasional, impor dan ekpor, ini disebut sebagai makro ekonomi.(hal.549)

Lalu pertanyaanya tentulah bagaimana menjadikan Masjid sebagai pusat ekonomi makro, ataupun mikro? Secara sederhana dapat kita katakan, buat saja Masjid di tengah-tengah kehidupan ekonomi, seperti di tengah pasar, sebagai pusat jual dan beli, atau di tengah pabrik tempat produksi barang-barang dihasilkan. Dan seterusnya, sebagai contoh pendirian phisik Masjid di tengah-tengah kegiatan ekonomi, Masjid Pasar Tanah Abang, Jakarta, Masjid di pasar Bringharjo Yogyakarta, dlsb

Sedangkan secara filosofi, barangkali adalah bagaimana sikap dan pola pikir para ekonom Islam itu, yang selalu diliputi kejujuran, kesungguhan, kebersamaan, sesuai dengan ajaran Islam, dan terhindar dari riba, karena Masjid sebagai simbulnya. Sebagai kelanjutannya adalah bagaimana orang-orang masjid dapat  menguasai produksi barang dan jasa, bagaimana orang Masjid mampu mendistribusikan hasil porduksi, bagaimana pula  orang masjid mampu menguasai pasar, tempat jual beli barang dan jasa

Dulu halaman Masjid Istiqlal pernah menjadi pasar kaget, yaitu terjadi kegiatan ekonomi, kegiatan pasar, menjelang shalat Jum’ah dan sesudah shalat Jum’ah, sebagaian umat setuju, dengan kegiatan itu, tetapi yang lain tidak setuju, karena dapat  mengganggu ibadah jum’at, sehingga pasar halaman Istiqlalpun dibubarkan

 Kemudian dari Masjid itu pula para khotib dan pengurus Masjid selalu menyerukan dan mengajak agar umat Muslim berekonomi, rajin bekerja, rajin berproduksi, rajin berjual beli, menyelenggarakan pasar,  termasuk bisnis jasa, termasuk mengurus tenaga kerja, di dalam dan di luar negeri, sebagai penghasil divisa dll.  Bila demikian keadaannya, tentulah dapat dikatakan bahwa masjid sebagai pusat pengembangan ekonomi. Ada yang melakukan penelitian, bahwa Nabi SAW sebagai entrepener selama 27 tahun, dan sebagai Nabi selama 23 tahun saja. Ini berarti bahwa Nabi SAW senang berekonomi, berbisnis,  tetapi umat Muslim sebagai umat Nabi entrepener kurang menyenangi berbisnis.  Maka bila kita ikut mazhab tawazun, isi khutbah ekonomi harus seimbang dengan khutbah ibadah, khutbah muamalah harus seimbang dengan khutbah ibadah.      Tentulah pendapat ini tidak popular, karena para khotib itu sendiri jarang berbisnis, jarang sebagai entrepener, maka bagaimana mungkin berkhutbah berhubungan dengan ekonomi. Saya baru mendengar ide dari ICMI, bagaimana membangkitkan ekonomi umat melalui Masjid, tentu merumuskannya tidak mudah, begitu juga mengamalkannya tentu juga tidak mudah. Dan rumusanpun belum sampai kepada kita untuk dibahas, dan dipedomani. Padahal kesempatan berbisnis di Indonesia itu sangat luas, dan banyak, tetapi umat Muslim masih sulit untuk mendapatkan kesempatan itu. Orang lainlah yang tahu, dan mencari kesempatan dan berusaha menimbulkan bisnis itu, dan mengembangkannya, yah kita berebut menjadi kulinya, pekerjanya saja. Sikap bangsa kita seolah-olah hanya menunggu, orang menawari bisnis.  Apa boleh buat,itulah kemampuan kita saat sekarang ini.  Maka dari saat sekarang dari Masjid kita kobarkan bekerja, berusaha, merebut lapangan kerja, berproduksi, menguasai pasar, menguasai distribusi, perdagangan, permodalan, secara bertahap. Memang ada mitos, yang didukung hasil penelitian yang menyatakan masyarakat yang hidup di daerah subtropis lebih maju dari pada masyarakat yang hidup di temperature tropis. Dan hasil penelitian itu dimanfaatkan untuk menjajah daerah tropis seperti yang dilakukan oleh bangsa Eropa termasuk Belanda menjajah Indonesia sampai 350 tahun lamanya. Kelihatannya mitos itu masih berlaku sampai sekarang, meskipun secara phisik dan militer tidak menjajah kita bangsa Indonesia, tetapi masalah ekonomi tetap masih menjajah kita, kata sebagian analis ekonomi. Maka bagi para ilmuwan kita, para ekonom kita ex luar negeri mampu mengangkat ekonomi   kita, bersama-sama masyarakat Masjid. Tidak hanya menjadi partner saja, yang tidak menguntungkan bagi perkembangan ekonomi bangsa kita

Sungguh banyak ayat dan hadis yang dapat kita pahami, , yang kemudian kita amalkan sebagai Syari’ah Islamiyah, seperti ayat haji, ayat kejujuran dalam menakar, menimang dan mengukur, ayat jihad yang didahulukan jihad harta barulah jihad nyawa/ ataupun badan,    ayat tentang mencari kehidupan akherat, tetapi tidak dibenarkan melupakan kehidupan duniawi, dan banyak lagi ayat-ayat yang ada hubungnnya dengan kehidupan ekonomi. Larangan adanya riba dalam berekonomi, dll. Mengenai hadis ekonomi tentulah banyak dapat kita pedomani, seperti adanya larangan jual beli dengan kebohongan, membayar upah bagi para pekerja bersegera, bersyarikat berusaha bersama dengan kejujuran, akan mendapatkan berkah Allah, dan adanya ibadah haji  seperti tawaf 7 kali balik, sa’I  7 kali balik, inipun mengandung hikmah, bahwa seorang muslim berusaha dengan bekerja keras, tanpa mengenal putu asa, sekli gagal diulangi lagi, diulangi lagi, diulangi lagi sampai berhasil

Untuk mengakhiri khutbah ini, marilah kita perhatikan firman Allah SWT dari Surah Al-Muthafifin, yang mengarahkan kepada orang   pengusaha Mulim jujur dalam menimbang, menakar dan mengukur

Artinya : Surah Al-Muthafifin ayat 1-6

1. Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang[1561],

2. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi,

3. dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.

4. tidaklah orang-orang itu menyangka, bahwa Sesungguhnya mereka akan dibangkitkan,

5. pada suatu hari yang besar,

6. (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam?

[1561] Yang dimaksud dengan orang-orang yang curang di sini ialah orang-orang yang curang dalam menakar dan menimbang.

Semogalah umat Muslim mampu menjadikan masjid menjadi puat pengembangan ekonmi secara bertahap, sebagai pusat pemberdayaan umat,  disamping sebagai pusat ibadah, dakwah, pendidikan dan silaturahim yang selama ini  sudah kita laksanakan.

 بارك الله لى ولكم من القرأن العظيم ونفعنى وإياكم بما فيه من الأيات والذكر الحكيم وتقبل الله منى ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم فأستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Azzahra News lainnya :close