Meluruskan Pemikiran Islami Dari Anasir Yang Kurang Benar (Part I)

Pemikiran-Islami-1

I.    MUKADIMAH

Islam diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW oleh Dzat Yang Maha Mulia Allah SWT dengan wahyu-Nya, melalui Malaikat JibrilAS. Wahyu itu ada yang berwujud “matluw” artinya yang langsung dibacakan oleh Malaikat Jibril AS kepada Nabi Muhammad SAW., inilah yang menjadi al-Qur’an al-Karim sebagai kumpulan dari wahyu jenis itu. Yang telah kita ketahui terdiri dari 30 juz, 114 surat dan lebih dari 6000 ayat. Kemudian terdapat wahyu “marwiw” artinya yang diriwayatkan, yang berupa hadis nabi Muhammad SAW., yang telah dibukukan dalam kitab-kitab hadis, yang jumlahnya sangatlah banyak. Mengapa hadis dikatakan sebagai wahyu marwiw, karena apapun yang dikatakan Nabi SAW. ataupun perbuatan Nabi SAW. ataupun ketetapan Nabi SAW. bahkan sifat-sifat Nabi SAW. pada hakekatnya ialah wahyu juga, sesuai dengan penegasan Allah SWT., tersebut dalam surah an-Najm ayat 1-5 yang artinya berbunyi sebagai berikut :

1. Demi bintang ketika terbenam.
2. kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru.
3. dan Tiadalah yang diucapkannya itu  menurut kemauan hawa nafsunya.
4. ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).
5. yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.

Juga tersebut dalam surah al-Nahl  ayat  44 yang artinya : keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka[829] dan supaya mereka memikirkan, yakni: perintah-perintah, larangan-larangan, aturan dan lain-lain yang terdapat dalam Al Quran.
Atas dasar pemikiran demikian itu, maka semua pemikiran yang  terpengaruh oleh berbagai anasir, yang menyeleweng perlu diluruskan kembali, baik yang berhubungan dengan ibadah, mu’amalah, akhlaq, aqidah,  maupun yang lainnya, diperlukan adanya kliren dari wahyu itu. Dalam beribadah, para ahli Agama Islam, dan para Ulama sependapat memegangi kaidah  yang menyatakan :

الأصل فى العبادة حرام حتى يدل عليه الدليل

Pada dasarnya ibadah itu adalah dilarang, terkecuali adanya dasar/dalil untuk itu. Maksud kaidah itu ialah segala hal yang behubungan dengan ibadah baik ibadah mahdhah maupun ibadah ijtima’iyah, diharuskan adanya dasar dari Syari’ah, yakni al-Qur’an dan As-Sunnah. Ada ‘Ulama yang berpendapat lebih longgar, yang dimaksudkan kaidah itu adalah yang berhubungan dengan ibadah mahdhah saja, bukan termasuk ibadah Ijtima’iyah/ibadah social.

Sesungguhnya ibadah mahdhah itu terbatas, seperti shalat, zakat, puasa, haji dan tentulah termasuk membaca dua kalimah syahadat. Para Sarjana Hukum Islam dan Para ‘Ulama mendasarkan firman Allah tersebut dalam Al-Qur’an surah al-Hasyr ayat 7 yang artinya: Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.

Menurut asbab nuzul ayat ini adalah berhubungan dengan al-fai’, yakni pembagian harta rampasan, yang dilakukan secara adil. Bahwa harta rampasan perang yang disebut sebagai fai, adalah untuk Allah, Rasulullah, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang dalam perjalanan yang memerlukan bantuan, tentulah juga bagi orang-orang yang ikut berperang, hal itu diharapkan agar harta itu yang dikuasai orang-orang tertentu saja. Pemahaman selanjutnya menyatakan bahwa membagi harta rampasan itu termasuk ibadah, sehingga diperlukan petunjuk dari Nabi SAW.

Tetapi para ‘Ulama mengembangkan maksud ayat ini, berhubungan dengan ibadah mahdhah pada umunya, yang memerlukan petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya. Yakni bahwa pada dasarnya semua ibadah itu harus ada dasar dari Allah dan Rasul-Nya juga, tidak boleh ditambah dan dikurangi. Dalam membahas mu’amalah para ‘Ulama mengembangkan kaidah, seperti di bawah ini :

الأصل فى المعاملة حلال حتى يدل عليه الدليل على إحرامها

Hukum pokok bermuamalah adalah halal/dibolehkan, sehingga adanya larangan terhadap perbuatan itu. Para sarjana hokum Islam dan juga para ‘Ulama menggunakan pemikiran baraah ashliyah, yakni pada dasarnya semua jenis mu’amalah itu dibolehkan, dengan mendasarkan Surah al-Baqarah ayat 29 yang artinya : Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.

Ayat ini dijadikan dasar berfikir baraah ashliyah, bahwa pada dasarnya  semua ciptaan Allah SWT itu adalah halal, boleh dimakan atau dapat dilakukan, kecuali yang sudah diharamkan. Seperti prinsip makanan dan minuman itu adalah halal, kecuali yang jelas-jelas sudah diharamkan.

Membahas soal aqidah, para “ulama menggunakan pola pikir dengan pemikiran filsafat atas dasar akal sehat. Seperti pemikiran, bahwa semua yang ada yang dapat dilihat, diraba atau dirasakan, pasti ada yang membuat. Seperti kursi, pasti ada yang membuat, ialah tukang kayu. Rumah pasti ada yang membuat, yakni tuakng kayu bersama-sama tukang batu dan tukang-tukang lain. Maka pertanyaan filsafat mengatakan lalu siapa yang membuat alam dan seisinya, maka jawaban pertama adalah pasti ada yang membuat, masa ada barang lalu tidak ada yang membuat.

Maka akal fikiran sehat dan Islami, menjawabnya, ialah Allah SWT. Dalil al-Qur’an untuk memperkuat jawaban itu, antara lain tersebut dalam firman Allah surah As-Sajadah ayat 4 yang artinya : Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy[1188]. tidak ada bagi kamu selain dari padanya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at[1189].

Maka Apakah kamu tidak memperhatikan
[1188] Bersemayam di atas ‘Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dsan kesucian-Nya.
[1189] Syafa’at: usaha perantaraan dalam memberikan sesuatu manfaat bagi orang lain atau mengelakkan sesuatu mudharat bagi orang lain. syafa’at yang tidak diterima di sisi Allah adalah syafa’at bagi orang-orang kafir.

Dalam menggunakan dalil Syar’I, para ‘Ulama sependapat mendasarkan kepada al-Qur’an dan juga dapat atas dasar hadis mutawatir, karena penetapan aqidah harus dalil yang kuat, yakni ayat al-Qur’an atau hadis mutawatir. Bila demikian kedaan pola pikir Islami, maka bila berbicara dan pembahasan masalah Islam ataupun dinul Islam maka tidak boleh tidak adasrnya harus syar’iy, harus kuat, yakni al-Qur’an dan as-Sunah.

Lalu kemudian, bagaimana dengan pendapat ‘Ulama, atau sering disebut juga dengan ar-Ra’yu, maka ia adalah berfungsi membantu memahami dalil Syar’iy itu. Karena banyak ‘Ulama yang tidak memiliki kemampuan untuk menangkap dan memahami al-Qur’an dan al-Hadis, apalagi upaya mengambil hukum dari dalil Syar’iy, tentu masih memerlukan sarana-sarana ilmu yang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Azzahra News lainnya :close