Membangkitkan Ekonomi Bangsa Dengan Jiwa Bisnis Usaha Mikro Kecil dan Menengah Berbasis E – Commerce

E-Commerce-1

Berdagang mungkin bukan kata yang asing lagi bagi masyrakat kita, sejak dahulu kala nenek moyang bangsa Indonesia ini adalah pedagang yang ulung bahkan sampai ke negeri – negeri yang jauh seperti benua afrika. Di mesir ditemukan fosil cengkeh dan rempah – rempah lainnya yang mana di duga berasal dari daerah nusantara ini karena pada saat itu tumbuhan cengkeh dan rempah – rempah lainnya tidak dapat tumbuh disana.

Dahulu kala mungkin kita memasarkan barang – barang dagangan kita dengan secara langsung yaitu membawa barangnya dan memperlihatkan kepada calon pembeli, apabila berminat maka akan dibeli dan apabila tidak berminat maka tidak dibeli. Cara berdagang seperti ini sebenarnya sangat tidak efisien, tidak efektif, dan tidak aman karena harus membawa barang tersebut kemana – mana.

Pada dasarnya menjadi seorang pebisnis itu dapat melalui tiga cara, yaitu : Pertama, menjadi seorang produsen. Kedua, menjadi seorang distributor. Ketiga, menjadi perantara atau dalam istilah lainnya menjadi seorang makelar. Ketika seseorang menjadi seorang produsen mungkin akan mendapatkan keuntungan yang besar akan tetapi mereka juga memiliki risiko yang besar karena biaya – biaya yang dikeluarkan tidak dapat dikembalikan walaupun produknya gagal. Ketika menjadi seorang distributor yang harus diperhatikan adalah harus memiliki pengetahuan jaringan yang baik karena kalau tidak maka dapat kalah saing harga oleh distributor lainnya. Ketika menjadi seorang makelar maka dia harus cerdas dalam mencari pelanggan, jangan sampai dia salah dalam melakukan penilaian terhadap calon pelanggan. Seorang makelar harus tahu mana yang benar – benar yang akan menjadi pembeli atau hanya “sekedar lihat – lihat saja”.

Sedangkan untuk memulai usaha yang secara legal seseorang pebisnis dapat melalui tiga cara, yaitu: Pertama, membuka usaha baru. Kedua, membeli usaha yang sudah ada. Ketiga dengan cara franchise atau membeli merck dagang. Membuka usaha baru mungkin memang mengasyikkan karena pebisnis tersebut benar – benar memiliki rasa puas dan adanya sense of belonging pada perusahaannya karena pebisnis tersebut mulai dari nol, akan tetapi pebisnis tersebut benar – benar memiliki mental baja karena pebisnis tersebut benar – benar “banting tulang” ketika bisnisnya dalam keadaan labil, dan  juga harus memiliki titik start yang tepat kalau tidak maka benar – benar akan binasa, contoh saja bisnis menjadi seorang konsultan sumber daya manusia, sebelum menjadi seorang konsultan maka langkah awal yang dilakukan adalah menjadi seorang trainer terlebih dahulu. Membeli usaha yang sudah ada, pada keputusan ini, seorang pebisnis harus teliti dalam membeli sebuah perusahaan yang ada, jangan sampai terbujuk rayu oleh harga sebuah perusahaan yang murah, akan tetapi juga harus melihat dari segi nama baik perusahaan tersebut yaitu dari hutang – hutangnya jika memang ada. Membeli merck dagang atau franchise, pada keputusan membeli merck dagang yang harus diperhatikan adalah pada sampai tahap mana pebisnis tersebut terus membayar uang fee pada franchisor atau pihak yang memiliki merck dagang tersebut.

Sebagian besar biaya yang dikeluarkan ketika merintis seuah usaha adalah pada saat memasarkan atau memperkenalkan produknya. Sebaik atau sebagus apapun sebuah produk apabila tidak dipasarkan maka tidak akan ada yang membeli dan akhirnya hanya memperbesar biaya pemeliharaannya saja.

Pada saat ini, teknologi informasi telah berkembang dengan pesat seperti layanan dunia maya, seorang pebisnis tidak perlu lagi repot dalam hal memasarkan barang dagangannya. Seorang pebisnis dapat menggunakan facebook, twitter, blackberry mesanger, email, blogger dan layanan dunia maya lainnya. Seorang pebisnis tidak perlu lagi “dor to dor” dari rumah ke rumah atau menyelenggarakan sebuah simposium dalam mengenalkan produk dagangannya yang memakan dana yang tidak sedikit.

Perkembangan dunia teknologi dan informasi telah membantu memimalisir biaya dalam melakukan sebuah bisnis, terutama bisnis – bisnis yang tidak memilki modal yang besar atau sering di sebut Usaha Mikro kecil dan Menengah (UMKM). Bisnis UMKM pada saat ini mulai berkembang mulai dari milik sendiri sampai franchise. Ketika ada seseorang calon pebisnis, dia ingin mengetahui bagaimana bergabung dalam bisnis franchise dapat langsung mencari di dunia maya dengan bantuan google search engine, yahoo search engine, atau layanan yang lainnya.

Seandainya saja di ilustrasikan, ketika seseorang pebisnis ingin menjual barang dagangannya yang berlokasi di jakarta sedangkan produk dagangannya berada di Surabaya. Biaya yang dikeluarkan bagi pebisnis tersebut setidaknya sudah Rp. 500.000 untuk pulang pergi dan itu saja hanya untuk orangnya belum termasuk barang dagangannya, sedangkan kalau dia menggunakan layanan dunia maya mungkin kalau hanya untuk memasarkan hanya berkisar Rp. 5.000 saja. Dapat dibayangkan betapa jauh selisih biaya yang di keluarkan dan ini belum termasuk selisih waktu yang dihabiskan pebisnis tersebut.

Untuk masalah pembayaran pun pada saat ini sudah sangat mudah, mulai dari transfer antar rekening bank, paypall, maupun dengan rekening bersama. Pada saat ini, mungkin kalau menggunakan transfer antar rekening Bank dan paypall memiliki tingkat risiko yang besar karena sudah banyak kasus yang bermunculan baik dari sipenjual maupun si pembeli yang melakukan penipuan, contohnya saja si pembeli sudah mentransfer uang tapi barang tidak dikirimkan atau barang dikirimkan tapi uang tidak di transfer, hal ini sudah sering terjadi. Adapun solusinya, untuk meminimalisir risiko penipuan adalah dengan menggunakan sistem rekening bersama, adapun ilustrasinya adalah sebagai berikut: si A adalah penjual dan si B adalah pembeli. Ketika si B ingin membeli barang kepada si A, B akan mentransfer dananya tidak langsung ke rekening A, akan tetapi di masukkan dahulu ke rekening bersama, setelah si B mennyatakan telah menerima barang yang dibeli dan melaporkannya maka barulah dana yang berada di rekening bersama tersebut masuk pada rekening si A.

Sebagaimana dikemukakan diatas, jual beli dengan online atau berbasis E – Commerce pada saat ini sangat mudah dilakukan dan dengan biaya yang lebih murah atau dengan kata lain menekan biaya pemasaran, biaya angkutan, dan biaya pemeliharaan, setidaknya tiga jenis biaya ini yang dapat ditekan. Dengan pendekatan analisa mikro dapat di ilustrasikan dua perusahaan yang berbasis E – commerce dan yang belum berbasis E – Commerce dapat dilihat pada Laporan Laba Rugi . PT. ABC adalah sebuah perusahaan yang tidak memiliki keunggulan dibidang teknologi dan informasi melaporkan Laporan Laba Rugi sebagai berikut :

PT. ABC

Laporan Laba Rugi

Yang berakhir pada 31 Desember 20XX

( dalam Rp )

Penjualan (1.000.000 unit @ 1.000)                           : 1.000.000.000

Harga Pokok Penjualan                                               :     600.000.000

Laba Kotor                                                                  :     400.000.000

Biaya Operasional dan Administrasi

Biaya gaji                                                                    :      120.000.000

Biaya Sewa Gedung                                                   :        60.000.000

Biaya Pemasaran                                                         :       40.000.000

Biaya Angkutan                                                          :       50.000.000

Biaya Gudang                                                            :       50.000.000

Biaya Konsumsi                                                          :       20.000.000

Total Biaya                                                                       340.000.000

Laba Sebelum Pajak                                                           60.000.000

Dari perhitungan laba diatas dapat kita hitung berapa pajak yang masuk ke negara adalah sebagai berikut :

25% X Rp. 60.000.000 = Rp. 15.000.000,-

Keuntungan bersih setelah pajak = Rp. 60.000.000 – Rp. 15.000.000 = Rp. 45.000.000

Yang kedua adalah perusahaan PT. DEF, yaitu perusahaan yang bergerak di bidang yang sama dengan PT. ABC, akan tetapi perusahaan PT. DEF ini memiliki keunggulan di bidang teknologi dan informasi sehingga biaya pemasaran, biaya angkutan, dan pemeliharaan barang dagang lebih kecil dibandingkan dengan PT. ABC.

PT. DEF

Laporan Laba Rugi

Yang berakhir pada 31 Des 20XX

( dalam Rp )

Penjualan (1.000.000 unit @ 1.000)                           : 1.000.000.000

Harga Pokok Penjualan                                               :     600.000.000

Laba Kotor                                                                  :     400.000.000

Biaya Operasional dan Administrasi

Biaya gaji                                                                    :      120.000.000

Biaya Sewa Gedung                                                   :        60.000.000

Biaya Pemasaran                                                         :       10.000.000

Biaya Angkutan                                                          :       20.000.000

Biaya Gudang                                                             :       0

Biaya Konsumsi                                                          :       20.000.000

Total Biaya                                                                       230.000.000

Laba Sebelum Pajak                                                           170.000.000

 

Dari perhitungan laba diatas, PT. DEF akan menunaikan pajak kepada pemerintah/ negara sebagaimana perhitungan dibawah ini :

25%  X  Rp. 170.000.000 =  Rp. 42.500.000

Keuntungan bersih yang didapatkan PT. DEF tersebut adalah sebagai berikut :

Rp. 170.000.000 – 42.500.000 = 127.500.000

Dari perhitungan – perhitungan data diatas dapat kita analisis bahwa laba perusahaan yang semula hanya 11.25% dari laba kotor menjadi 31.87% atau meningkat 20.62%. Sedangkan pajak yang masuk kepada negara yang semula hanya 3.75% dari laba kotor perusahaan menjadi 10.62% atau meningkat 6.88%.

Walaupun perhitungan – perhitungan diatas masih berdasarkan pada hipotesa. Akan tetapi, hipotesa yang digunakan sudah mendekati pada dunia realnya, seperti biaya pemasaran yang semula menghabiskan Rp. 40.000.000 turun menjadi Rp. 10.000.000 atau melakukan penghematan biaya sebesar Rp. 30.000.000. Hal ini terjadi karena perusahaan hanya cukup membayar biaya langganan website selama satu tahun sekitar Rp. 10.000.000. sedangkan biaya angkutan yang semula Rp. 50.000.000 menjadi Rp. 20.000.000 atau melakukan penghematan sebesar 30.000.000. Hal ini terjadi karena perusahaan yang semula harus membawa barang dagangan harus diantar dari principal ke perusahaannya tersebut lalu disimpan dan ketika ada yang membeli baru dikirim namun dengan bantuan E – Commerce cukup langsung dari principal kepada konsumen. Sedangkan biaya gudang yang semula  Rp. 50.000.000 menjadi 0. Hal ini sudah jelas pada penjelasan sebelumnya yaitu dari principal langsung kepada konsumen sehingga tidak perlu lagi gudang atau tempat penyimpan.

Dengan melihat hipotesa seperti diatas, pastilah akan membangkitkan seseorang untuk melakukan sebuah usaha atau berbisnis dengan bantuan dunia teknologi informasi atau dengan kata lain E – Commerce. Secara otomatis, ketika penghasilan masyarakat meningkat maka pajak kepada negara juga pasti meningkat akhirnya meningkatkan perekonomian negara tersebut.

Demikianlah makalah ini disampaikan semoga bermanfaat bagi kita semuanya. Amin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Azzahra News lainnya :close