Polemik Pembagian Hasil Usaha Dalam Akad Investasi Mudharabah

Investasi-1

Mudharabah adalah suatu akad yang memuat penyerahan modal atau semaknanya dalam jumlah, jenis dan karakter tertentu dari seorang pemilik modal (shahibul-maal) kepada pengelola (mudharib) untuk dipergunakan sebagai sebuah usaha dengan ketentuan jika usaha tersebut mendatangkan hasil, maka hasil (keuntungan) tersebut dibagi berdua berdasarkan kesepakatan sebelumnya (nisbah), sementara jika usaha tersebut tidak mendatangkan hasil (rugi), maka kerugian materi sepenuhnya ditanggung oleh pemilik modal dengan syarat dan rukun-rukun tertentu.

Prinsip hasil usaha dalam akad mudharabah dapat dilakukan berdasarkan prinsip bagi hasil dari:

  1. Pendapatan / Omzet (Revenue Sharing)
  2. Laba Kotor (Gross Profit)
  3. Laba Bersih (Profit Sharing/Net Profit)

Sedangkan yang diperbolehkan menurut PSAK 105 adalah Gross Profit dan net Profit

Contoh perhitungan bagi hasil:

Penjualan Rp. 2.000.000,-
HPP Rp.6.00.000,-
Laba Kotor Rp. 1.400.000,-
Biaya-biaya Rp. 400.000,-
Laba (Rugi) bersih Rp. 1.00.000,-

 

–          Metode Revenue sharing dengan nisbah pemilik:pengelola = 5:95

Pemilik                 : 5% x Rp. 2.000.000,- = Rp. 100.000,-

Pengelola            : 95%xRp. 2.000.000,- = Rp. 1.900.000,-

–          Metode Gross Sharing dengan nisbah pemilik:pengelola=10:90

Pemilik                 : 10% x Rp. 1400.000,- = Rp. 140.000,-

Pengelola            :  90%xRp. 1.400.000,- = Rp. 1.260.000,-

–          Metode Profit Sharing dengan nisbah pemilik:pengelola=30:70

Pemilik                 : 30% x Rp. 1.000.000,- = Rp. 300.000,-

Pengelola            :  70% x Rp. 1.000.000,- = Rp. 700.000,-

Problem:

Dalam Prinsip akuntansi syariah (PSAK No. 105) metode yang dipakai adalah Gross Profit dan Net Profit, sedangkan secara prakteknya sistem bagi hasil metode revenue sharing banyak dipergunakan.

Beberapa hal penyebab metode revenue sharing dipergunakan :

  1. Lebih jujur
  2. Lebih mudah mengontrolnya
  3. Bagi hasilnya lebih cepat diperoleh
  4. Lebih gampang menghitungnya

Metode revenue sharing kurang adil dalam pembagian bagi hasil, karena beban tidak diperhitungkan. dan masih ada sistem bagi hasil bukan berdasarkan cash basis (pendapatan kas), tetapi pendapatan (kas dan bukan kas dimasukkan) yang sering menimbulkan permasalahan.

Metode bagi hasil berdasarkan syariah melarang ada unsur maysir, ghoror dan riba, selain itu prinsip keadilan dan sosial (sadakah) di syariah berlaku.

Sedangkan prinsip Gross Profit dan Net Profit lebih sering dimanipulasi datanya karena pola pikir prinsip  konvensional masih melekat pada pengelola yaitu memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya bagi dirinya dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya, dan tidak jujur, selain itu perhitungannya lebih rumit.

 

Prinsip bagi hasil tabungan di perbankan syariah belum memakai prinsip murni bagi hasil berdasarkan syariah

Gharar; Situasi dimana terdapat informasi yang tidak jelas, sehingga terjadi ketidakpastian dari kedua belah pihak yang bertransaksi

Maysir; Untung-untungan (judi)

Riba; Keuntungan atau kelebihan pada pengembalian yang berbeda dari nilai aslinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Azzahra News lainnya :close